Hari Kebebasan Pers sedunia Sebagai Bentuk Berbicara di Muka Publik

Hari kebebasan pers sedunia diperingati pada tanggal 3 Mei baik di Indonesia maupun seluruh dunia sebagai bentuk kebebasan dalam menyampaikan pendapat.

Di Indonesia, berdasarKebebasan-Perskan perkumpulkan jurnalis yang terbentuk dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebutkan bahwa Hari Kebebasan Pers Sedunia bermula pada tahun 1993, ketika sidang umum Sidang umum perserikatan Bangsa-bangsa.

Dalam acara Hari Kebebasan Pers Sedunia di Jakarta Convention Center, menteri komunikasi dan informasi menyerukan untuk melawan berita hoax.

Melawan Berita Hoax Bentuk Dari Hari Kebebasan Pers Sedunia

Kebebasan pers di Indonesia mulai terbentuk ketika Presiden Indonesia kala itu yaitu BJ Habibie mengesahkan UU No. 4 Tahun 1999 tentang Pers. Karena pemerintah kala itu memiliki wewenang dalam menyensor dan membredel pers.

 

Pada tahun 2017 berdasarkan portal media online Tribunnews.com, jurnalis Indonesia menyerukan bahwa untuk menolak segala kekerasan terhadap jurnalis, menolak monopoli dan  intervensi media serta melawan segala bentuk informasi dan berita hoax.

Media sosial yang terus berkembang untuk beberapa tahun sekian memudahkan berbagai informasi untuk diakses oleh masyarakat terlebih tidak memakan biaya banyak dan mudah tersampaikan oleh masyarakat. Namun, sisi lain dari kelebihan media sosial adalah maraknya cyber crime serta tersebarnya berita-berita yang belum tentu benar (hoax).

Kabar hoax sangat mudah tersebar melalui media sosial terlebih WhatsApp yang notabene media sosial yang banyak digunakan. Pada pembahasan saat Hari Kebebasan Pers Sedunia , berita hoax menjadi topik yang hangat. Sebab kabar hoax yang tersebar di media sosial tersebut dapat memicu keributan bahkan kejahatan.

Walaupun pemerintah dan dewan pers telah berusaha melawan berita hoax yang banyak tersebar di media-media sosial, tetap saja masih belum teratasi dengan maksimal. Maka dari itu, masyarakat harus ikut andil dalam menangkal berita hoax tersebut. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi kesalahpahaman, kebohongan serta kejahatan yang kemungkinan dapat terjadi.

Hari kebebasan pers sedunia menjadi sebuah peringatan kepada seluruh jajaran jurnalis terutama di Indonesia dalam memberikatakan informasi yang nyata sehingga masyarakat akan mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya.